TOKO ALHAROMAIN
MENJUAL PAKAIAN JADI
D 54-D55 AND B19-B20
PASAR TANJUNG MOJOKERTO
Menguak Misteri Penyembuhan PONARI
Puluhan ribu orang
datang ke Jombang, ke kampung dukun cilik Ponari untuk mencari kesembuhan atas
penyakit yang mereka derita. Dari sejarah perdukunan di Indonesia ,
mungkin praktik dukun Ponari ini paling menghebohkan. Orang mau desak-desak
mengantre, mau datang dari jauh, mau gencet-gencetan, sampai 4 orang dinyatakan tewas. (Lha, mau cari sembuh kok malah
tewas?).
Mengapa
sampai ribuan orang mau datang ke tempat Ponari? Mengapa sampai ada yang
memaksa tinggal di sekitar rumah Ponari, sambil menuntut supaya praktik
perdukunan digelar lagi? Mengapa ada yang memburu air sumur, air comberan, sampai air sisa mandi
Ponari? Mengapa sampai ada yang mengambil tanah, lumpur, atau apa yang bisa
mereka bawa, yang diduga kuat disana terdapat “jejak kaki” Ponari? (Jadi ingat
film Blue’s Clues yang digemari
anak-anak).
Mengapa
bisa terjadi semua kenyataan itu? Jawabnya sederhana, sebab kabar telah
tersebar luas tentang kesaktian dukun Ponari yang terbukti mampu menyembuhkan
banyak pasien. Konon, ada orang lumpuh, stroke, muntaber, dan lain-lain bisa
sembuh setelah berobat dengan cara Ponari. Ada puluhan orang sudah terbukti
sembuh, malah ada yang mengklaim ratusan orang sudah sembuh.
Ibarat
dukun atau “wong pinter”, Ponari ini sudah istimewa sekali. Dia bisa melakukan
pengobatan secara kolektif kepada banyak orang dan “sudah terbukti”. (Jadi
ingat kampanye Dada Rosyada di Bandung waktu itu. Slogannya “sudah terbukti”.
Kalau orang Jawa Timur ngomongnya ditambahi, “Sudah terbukti ngono!”). Dukun
amatiran, biasanya mengobati 100 orang, 6 atau 7 bisa sembuh, selebihnya
ngapusi (menipu). Nah, ini dukun Mbah Ponari. (Padahal usianya masih anak-anak
kelas III SD, tapi sudah dipanggil Si Mbah). Di tangan Mbah Ponari, ratusan
orang berhasil sembuh. Lagi-lagi “sudah terbukti”.
Karakter Opini Awam
Cara
berpikir orang awam sangat simple. Apa yang tampak di mata, apa yang terdengar
di telinga, apa yang teraba oleh telapak tangan; seketika itu juga dipercaya,
diyakini, lalu diikuti. Easy, man!
Ibarat
seseorang yang baru menurunkan buah nangka masak dari pohonnya. Begitu buah
menyentuh tanah, seketika diserbu sampai habis tandas. Sampai tinggal dami,
beton, kulit, dan getahnya saja. Itulah ciri selera orang awam. Tetapi di mata
orang berwawasan, buah nangka bisa diolah sedemikian rupa sehingga nikmatnya
berlipat ganda. Ada yang digoreng dengan tepung, ada yang dibuat dodol
(jenang), ada yang diawetkan menjadi keripik, ada yang dibuat campuran kolak,
es campur, puding, dan lain-lain. Jadi tidak main asal serbu saja.
Di
mata orang awam, begitu mereka mendengar ada seorang bocah kecil kejatuhan batu
setelah disambar petir, seketika menyebar berbagai macam opini seperti
gelombang air bah. Mereka mulai bercerita, “Katanya,
konon, jarene, ceuk si eta, qala fulan…,” dan sebagainya. Nah, inilah dia hidup di atas “jalan katanya”. Saat mendengar berita
berikut: “Di Jombang ada dukun sakti. Dukun tiban. Masih anak SD kelas III. Dia
bisa menyembuhkan segala macam penyakit dengan jimat watu gluduk.” Setelah
mendengar itu, tidak pikir-pikir lagi, tidak tunda-tunda lagi; meskipun dirinya
lagi makan, lagi di angkot, lagi menggendong anak, lagi di WC, lagi rapat seru,
lagi bergumul dengan isterinya, lagi ini lagi itu, dan seterusnya. Seketika
semuanya ditinggalkan hanya karena mendengar berita kesaktian dukun hebat.
Lho,
kok mereka bodoh amat ya? Jangan dibilang bodoh amat lah, tapi cukup disebut
sangat awam. Mereka terlalu lugu, terlalu polos. Seperti analogi buah nangka
tadi; begitu sampai di tanah langsung diserbu. Mereka bukan tidak berilmu atau
tidak pernah mendengar informasi, tetapi mentalitasnya lebih menyukai hal-hal
yang simple, instant, dan sensasional. Kalau
mereka disuruh memilih antara segera makan mie instan atau menunggu gulai
kepala kakap (ala masakan Padang) matang, mereka akan memilih makan mie instan.
Jiwanya mudah menyerah dengan sesuatu yang praktis, tanpa mau capek-capek
melakukan pendalaman.
Nah,
orang-orang awam itulah yang saat ini menjadi “target
market” utama perdukunan ala Mbah Ponari
Al Jombangi. Mereka mudah diperdaya oleh sensasi menyesatkan. Bahkan
yang seperti itu merupakan klien utama praktik kemusyrikan dimanapun. Na’udzubillah wa na’udzubillah minasy
syirki.
Alternatif Penyembuhan Penyakit
Kalau
ada beberapa orang datang ke dukun Ponari untuk berobat, lalu sembuh. Kemudian
datang lagi beberapa orang lain, berobat juga, sembuh juga. Keberhasilan sembuh
seperti itu di mata orang awam sudah dianggap sebagai bukti kesaktian seorang
dukun. Padahal kenyataannya tidak sesederhana itu.
Sebagian
orang mengatakan, bahwa dukun Ponari sudah menyembuhkan puluhan orang sakit,
bahkan sampai ratusan orang sakit. Caranya sangat mudah, Ponari pegang “batu
ajaib” miliknya, lalu dicelupkan ke air minum yang dibawa oleh para pasien atau
pengantar pasien. Secara sederhana disimpulkan: “Dukun Ponari memiliki kekuatan
sakti untuk menyembuhkan manusia!” Lalu orang-orang pun mengagungkan dirinya
sebagai “manusia suci” yang layak dikeramatkan. (Jika hati manusia sudah sampai
ke tahap menganggap dukun Ponari sebagai pemberi kesembuhan, jelas hal itu
merupakan kemusyrikan yang sangat haram).
Di
dunia selama ini dikenal beberapa cara penyembuhan, yaitu:
[1]
Secara medis, dengan pemberian obat, asupan suplemen,
operasi pembedahan, atau terapi medis. Ini adalah cara paling umum dan diakui
secara universal. Meskipun tidak setiap pasien yang menerima penanganan medis
otomatis sembuh. (Mayoritas pasien yang datang ke tempat Ponari, rata-rata kaum
“frustasi” terhadap terapi medis. Katanya, “Sudah ke dokter dimana-mana, tapi
belum sembuh-sembuh.”).
[2]
Secara terapi pengobatan Nabi (Thibbun Nabawi).
Sebenarnya cara ini lebih dekat ke sistem medis modern, hanya saja ia dilakukan
dengan dasar keyakinan atas kebenaran sabda Nabi. Namun dalam riset-riset
modern, ternyata apa yang disabdakan Nabi itu terbukti kebenarannya. Walhamdulillah.
[3]
Pengobatan dengan ruqyah (dibaca-bacakan doa atau
dzikir ruqyah). Pengobatan ini sifatnya meminta pertolongan Allah lewat
doa dan dzikir, seperti yang diajarkan oleh Nabi. Jika memakai media, biasanya
air atau daun bidara. (Tetapi media disini bukan seperti batu, jimat, kalung,
cincin, tulang, dll. yang dijampi-jampi dengan mantra-mantra, lalu diharapkan
ia memiliki kesaktian penyembuhan. Tidak demikian. media yang dipakai dalam
ruqyah umumnya air bersih, dibacakan doa-doa yang benar, dan diyakinkan di hati
bahwa yang menyembuhkan adalah Allah. Dan tanpa media air pun bisa, sebab kita
boleh berdoa dan berdzikir secara leluasa).
[4]
Pengobatan dengan cara sihir, yaitu
memanfaatkan tenaga jin-jin untuk “menyembuhkan” manusia. Caranya dengan
memanfaatkan kemampuan jin-jin itu untuk melakukan terapi pengobatan sesuai keahlian mereka yang tentu saja sifatnya ghaib
(tidak kita ketahui caranya, sebab berbeda alam). Atau sebagian
jin disuruh untuk mengusir jin-jin lain yang bersarang di tubuh orang-orang
sakit yang menyebabkan mereka menderita sakit. Banyak penyakit
disebabkan oleh jin-jin yang menyusup ke tubuh manusia. Praktik tenung, santet,
voodoo, kesurupan, dll. adalah bukti bahwa jin-jin itu bisa menyusup ke tubuh
manusia. Bahkan Nabi mengatakan, “Syaitan
(dari bangsa jin) bisa masuk ke tubuh Bani Adam seperti mengalirnya aliran
darah.” Nah, penyembuhan itu dilakukan oleh jin yang kuat untuk mengusir
jin-jin yang lebih lemah yang ada di tubuh manusia.
[5]
Cara pengobatan asal-asalan, tanpa sandaran
apapun, dan hasilnya secara kebetulan berhasil. Cara pengobatan asal-asalan itu
ada, meskipun kerap kali menyebabkan orang celaka. Anda ingat di masyarakat
kadang muncul istilah “dokter palsu” atau “dukun palsu”. Itu artinya pengobatan
asal-asalan, hanya mengandalkan sugesti pasien sebagai modal pengobatannya.
Kalau
melihat cara yang dilakukan dukun Ponari, yang dia lakukan adalah metode sihir.
Alat yang dia gunakan adalah watu gluduk, batu yang disebut-sebut jatuh saat
tersambar petir. Tetapi inti kekuatannya bukan pada batu itu sendiri, tetapi
pada jin-jin yang ada di baliknya. Bisa saja ia satu jin, atau beberapa jin,
atau banyak jin sekaligus. Sedangkan mencelupkan batu ke air, itu hanyalah
langkah zhahir saja; sementara yang riil bekerja disana adalah jin-jin itu.
Praktik Sihir Pengobatan
Saya
menyimpulkan, praktik yang dilakukan Ponari adalah bagian dari sihir. Sihir itu
direalisasikan dengan alat watu gluduk (“batu ajaib”). Tetapi yang berperan
disana ya jin-jin juga, bukan batu itu sendiri. Banyak benda-benda lain yang
kerap digunakan, seperti keris, batu delima, cincin, kalung, jengglot, dan
lain-lain. Tetapi benda-benda itu hanya “rumah hunian”
saja bagi jin-jin durhaka itu. Maka kalau jin-nya sudah diusir,
benda-benda itu akan kembali menjadi benda material biasa.
Almarhum
Bapak Kasman, pakar sihir di Bandung yang telah meninggal, beliau memiliki
banyak koleksi keris yang sudah ditinggalkan oleh para “penghuninya” yaitu
jin-jin durhaka. Tadinya keris itu bisa melakukan atraksi macam-macam, tetapi
setelah penghuninya pergi, ia kembali menjadi benda biasa. Nah, tugas para Empu
(dukun sihir) di masa lalu, selain menyiapkan benda pusaka (materialnya), juga
mengikat jin-jin tertentu agar masuk ke benda pusaka itu. Menurut istilah
orang-orang sekarang, melakukan “pengisian energi”.
Padahal sejatinya, mengikat jin-jin durhaka agar
tinggal di suatu benda tertentu.
Alasan mengatakan praktik
Ponari ini adalah sihir, antara lain:
[a]
Cara pengobatan Ponari sangat tidak rasional. Dari sisi medis, sangat tidak
cocok; dari pengobatan herbal, juga tidak; kalau disebut memakai metode Nabi,
beliau tidak mencontohkan cara seperti itu; kalau disebut
ruqyah Islami, Ponari memakai batu dan tidak membaca doa atau dzikir ruqyah.
[b]
Pertama kali pengobatan dilakukan oleh Ponari kepada adiknya sendiri yang
menderita panas (disebut juga muntaber). Pertanyaannya, lho darimana Ponari
tahu kalau batu itu berkhasiat memberi pengobatan? Namanya juga batu, bisa saja
untuk berbagai keperluan lain. Mengapa tiba-tiba ada ide untuk pengobatan?
Ponari kan bocah kecil, kelas III SD, sebelumnya tidak pernah terlibat dalam
kegiatan pengobatan-pengobatan. Bahkan, mengapa pengobatan harus mencelupkan
batu ke air, lalu diminum? Apa Ponari diajari di sekolahnya praktik seperti
itu? Itu tandanya, ada kekuatan lain di balik Ponari
yang tiba-tiba mengendalikan dirinya.
[c]
Usia Ponari yang masih kecil, padahal biasanya tukang-tukang sihir itu orang
dewasa. Antara usia yang sangat muda, dan kemampuan memberi pengobatan terhadap
banyak penyakit, hal ini menandakan ada lompatan
kekuatan manusiawi yang terlalu lebar. Bagaimana seorang anak kecil bisa
begitu “sakti” (jika boleh dikatakan demikian), kalau tidak melalui praktik
sihir?
Kalau
watu gluduk Ponari bisa berpindah sendiri dari kebun ke meja di rumahnya, itu yang memindahkan bukan batunya sendiri, tetapi penghuni yang
ada di dalamnya. Atau jin-jin yang menyertai benda itu. Anda jangan
heran dengan kekuatan jin. Di jaman Nabi Sulaiman ‘alaihissalam, mereka bisa
memindahkan singgasana Ratu Balqis hanya dalam kedipan mata. Konon, sebagian
kyai di Indonesia, ada yang setiap Jum’at ikut Shalat Jum’at di Makkah, padahal
sehari-hari ada di Indonesia. Kalau benar ada yang seperti itu, kalau benar lho
ya, itu memakai metode seperti jin di masa Nabi Sulaiman dan Balqis. Di tangan Sulaiman ia dihalalkan, tetapi di tangan kita
(Ummat Nabi Saw) tidak halal alias haram.
Lho, kan sihir itu jahat ya?
Kata
siapa semua sihir jahat? Banyak sihir yang berurusan dengan MANFAAT, seperti
pengobatan, kekayaan, tenaga dalam, ilmu kebal, penampilan fisik, jabatan,
kelancaran bisnis, mengikat cinta, sulap, atraksi, dan sebagainya. Secara umum,
sihir berurusan dengan perkara MADHARAT dan MANFAAT. Yang berurusan dengan
madharat disebut SIHIR HITAM, yang berurusan dengan manfaat disebut SIHIR
PUTIH. Tetapi kedua-duanya SIHIR, merupakan hasil
persekutuan dengan jin, dan ia merupakan kemusyrikan yang berakibat kekafiran.
Bedanya
dengan Nabi Sulaiman As., beliau TIDAK BERSEKUTU dengan jin-jin itu, tetapi beliau memaksa jin-jin itu untuk bekerja kepadanya.
Mereka dipaksa bekerja dan melayani petintah Sulaiman dalam keadaan takut. Nabi
Sulaiman tidak memberi apapun sebagai imbalan atas
kerja jin-jin itu. Adapun dalam persekutuan sihir, semua tukang sihir harus menyerahkan sesuatu yang berharga
miliknya sebagai imbalan atas kerja yang jin-jin lakukan. Imbalan itu
biasanya sesuatu yang nilainya sangat berat bagi tukang-tukang sihir itu.
Minimal, mereka harus menyerahkan keyakinan (akidah) mereka kepada kekafiran.
Adapun Nabi Sulaiman tidak pernah memberi apapun kepada jin-jin itu, meskipun
hanya sebutir batu atau sepotong kayu.
Dalam
Al Qur’an disebutkan:
“Dan mereka mengikuti apa-apa yang dibaca oleh
setan-setan pada zaman kerajaan Sulaiman, sedang Sulaiman tidak kafir, tetapi
setan-setanlah yang kafir. Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang
diturunkan kepada dua malaikat di negeri Babil, yaitu Harut dan Marut; dan
keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorang pun sehingga keduanya
berkata, ‘Sesungguhnya kami hanya (membawa) fitnah (cobaan), sebab itu
janganlah engkau menjadi kafir (karena mempelajari sihir).’ Maka mereka
mempelajari dari kedua malaikat itu (tentang sihir) yang dengannya mereka
menceraikan seorang (suami) dari isterinya. Dan mereka
tidak memberi mudarat kepada seorang pun dengan sihirnya, kecuali dengan izin
Allah. Dan mereka mempelajari apa yang memudaratkan mereka dan tidak
memberi manfaat kepada mereka. Dan sungguh mereka telah mengetahui bahwa siapa yang menukar (keimanan dengan) sihir, tiadalah
baginya bagian (kebaikan) di akhirat, dan amat jahatlah perbuatan mereka
menjual dirinya (dengan sihir) kalau mereka mengetahui.” (Surat Al Baqarah: 102).
Pemanfaatan
sihir untuk pengobatan itu sudah lama dipakai. Sejak jaman dulu. Di Jawa para
dukun yang memberi pengobatan kerap disebut Tukang Suwuk (tukang pembaca
mantera-mantera untuk pengobatan). Mereka tidak membaca doa atau dzikir ruqyah,
tetapi membaca mantra-mantra, yaitu kalimat-kalimat kufur yang sangat disukai
oleh jin-jin durhaka. Media yang digunakan bisa macam-macam, berbeda dengan ruqyah Islami yang umumnya hanya memakai air putih bersih.
Dan dalam ruqyah tidak ada unsur kekafiran apapun.
Apa
yang selama ini kita dengar sebagai “pengobatan alternatif”, “pengobatan
supranatural”, “pengobatan energi alam”, “pengobatan tenaga dalam”, “pengobatan
nur hikmah”, dan sebagainya, semua itu hanya istilah pemanis saja. Padahal
intinya pengobatan sihir juga (SIHIR PUTIH). Semua
jenis sihir, baik sihir hitam maupun putih, sama bahayanya. Dan yang lebih
menyesatkan manusia adalah SIHIR PUTIH, sebab kelihatannya baik, bermanfaat,
mulia, dll.
Lho,
masak sihir sih? Itu kan pakai doa-doa juga, dzikir juga, puasa juga, pakai
shalat, dan sebagainya? Masak sihir sih?
Ya,
kita lihat dulu mekanisme pengobatannya. Kalau hanya memakai air, atau makanan
yang biasa dimakan, lalu dibacakan doa-doa yang benar dari Al Qur’an atau
Sunnah Nabi, dan diyakinkan di hati bahwa itu hanya usaha saja, sementara
pemberi kesembuhan sejati adalah Allah As Syafi, maka cara demikian bukan
sihir.
Tetapi
meskipun memakai doa, dzikir, shalat, baca ayat-ayat,
dan sebagainya, tetapi kalau mekanisme tidak rasional, misalnya
mencelupkan batu ke air, mencelupkan cincin, menggosok dengan pusaka,
memindahkan sakit ke binatang, mengerahkan tenaga dalam, dan sebagainya; jelas
semua itu adalah sihir. Cara yang diajarkan Nabi adalah pengobatan, terapi, dan
ruqyah. Kalau memakai cara-cara di luar itu, dengan memakai media aneh-aneh,
mengerahkan tenaga dalam, melakukan “pengisian”, dan seterusnya. Jelas semua
itu telah menyimpang.
Doa dan dzikir yang dipakai dalam praktik sihir putih, itu lebih berbahaya
ketimbang mantra-mantra dalam sihir hitam. Mengapa? Sebab
kemungkinan orang akan tertipu sangat besar. Mereka menyangka itu pengobatan
Islami, padahal sihir-sihir juga. Cara menandainya, biasanya dalam pengobatan
seperti itu tidak dibacakan ayat-ayat Al Qur’an atau hadits yang bisa mengusir
jin atau membakarnya. Kalau tidak percaya, coba datanglah ke tempat seperti
itu, lalu bacakan Ayat Kursi atau Surat Al Al Baqarah
dengan keyakinan penuh secara intensif. Pasti bacaan Anda akan sangat
dibenci di tempat seperti itu.
Kelemahan Sihir Pengobatan
Sihir
sebagaimana cara pengobatan medis, tidak bersifat mutlak. Kadang berhasil, dan
kadang gagal. Sekali lagi saya tegaskan, hakikat kesembuhan itu dari Allah
Ta’ala, bukan dari obat, terapi, atau sihir. Semua itu hanya cara manusia untuk
usaha, sedangkan pemberi nikmat sehat dan sembuh, hanya Allah saja. Buktinya
apa? Sederhana saja, para dokter, apoteker, dukun, paranormal, dll. mereka juga
mengalami sakit, seperti manusia biasa. Kalau di
tangan mereka ada kesembuhan, pasti mereka bisa menolak penyakit datang ke
dirinya. Lagi pula, di dunia ini tidak ada satu pun yang berani
mengklaim: “Bisa memberi kesembuhan secara mutlak!” Para tukang sihir paling
sakti pun tidak berani mengklaim. Buktinya, ketika waktunya mati, para tukang
sihir itu mati juga.
Dalam
pengobatan sihir ada banyak kelemahannya, termasuk dalam praktik yang dilakukan
oleh Ponari saat ini. Antara lain:
[1]
Ada sebagian orang yang bisa sembuh, tetapi banyak
juga yang gagal.
[2]
Pengobatan sihir itu tidak jelas parameternya.
Kita tidak tahu, apakah ada kemajuan atau belum, apakah pengobatan sudah
berjalan atau mandeg, apakah proses bisa cepat atau lambat, dan sebagainya.
Tidak ada parameter yang jelas, berbeda dengan metode pengobatan medis pada
umumnya.
[3]
Kesembuhan yang diperoleh biasanya bersifat sementara,
tidak ajeg (berkesinambungan). Nanti, sakit itu bisa kambuh lagi. Orang-orang
yang kini gembira dengan kesembuhan, nanti mereka akan kecewa. Itu pasti!
[4] Kalau seseorang di hatinya tidak yakin dengan cara penyembuhan itu, biasanya pengobatan menjadi gagal. (Target utama para
jin itu memang untuk memalingkan keyakinan manusia dari kebenaran. Kalau sejak awal kita sudah tidak yakin, jin-jin itu juga tidak
mau membantu).
[5]
Kesembuhan yang diperoleh biasanya membuat seseorang semakin
jauh dari Allah, semakin jauh dari amal shalih. Bisa jadi, mereka
mendapat kesembuhan, tetapi mereka bisa kehilangan Allah. Duhai, sebuah
pertukaran yang tidak sebanding sekali. Alangkah indahnya, tetap sabar dalam
sakit, namun selalu mendekap keimanan di hati dan cinta yang tulus kepada Ar Rahmaan Al Khaliq.
[6]
Sekali seseorang merasa mendapat manfaat dari pengobatan sihir, biasanya dia
akan terjerumus lagi dengan cara-cara serupa dalam
bentuk lain. Pada suatu titik, dia akan menjadi “penggemar”, atau “fans
berat” praktik perdukunan. Sejak itu hidupnya terseok-seok di jalan mistik, supranatural, “alam ghaib”, dan
sebagainya.
Watak
praktik sihir memang seperti itu. Ia kelihatan bermanfaat pada sebagian orang,
dan gagal pada orang-orang lain. Pendek kata, disini tidak ada yang mutlak.
Wong, jin-jin itu sendiri tidak bisa menolak keburukan yang Allah timpakan
kepadanya. Bagaimana mereka akan menjamin kesembuhan?
Dalam
Al Qur’an: “Sesungguhnya apa yang mereka
perbuat itu adalah tipu daya tukang sihir (belaka). Dan tidak akan beruntung
tukang sihir itu, dari mana saja ia datang.” (Surat Thaha: 69).
Maka
saran saya, sebaiknya praktik pengobatan Ponari dihentikan. Ditutup secara
total. Lalu batu Ponari serahkan kepada orang-orang
beriman untuk dihancurkan, seperti Ibrahim As. menghancurkan patung-patung di
masa lalu. Selanjutnya, Ponari harus direhabilitasi secara fisik,
psikologis, dan mental. Kasihan anak itu, dia tidak tahu apa-apa! Dia adalah
anak kecil yang tidak memahami kondisi ini. Tubuhnya
dipakai oleh jin-jin durhaka untuk menyebarkan kesesatan. Ponari ini
harus dibimbing dan diterapi ruqyah Islami agar ia kembali ke kehidupan semula,
layaknya anak-anak kecil biasa. Dan ia perlu dididik dengan metode tauhid
Ibrahim As. biar ke depan tidak diganggu lagi oleh makhluk-makhluk durhaka itu.
Efek Penyesatan Ummat
Ujung
dari praktik Ponari ini bukanlah untuk menyembuhkan pasien, membantu
masyarakat, menyediakan pengobatan murah dan efektif, atau semisal mencari
keuntungan dari praktik pengobatan alternatif. Ujung dari semua ini adalah:
Penyesatan akidah Ummat!
Orang
yang datang ke Ponari, lalu sembuh; dia akan percaya bahwa Ponari sakti, batu
Ponari sakti, dia bisa menyembuhkan, dan lainnya. Nanti kalau Ponari meminta
sesuatu kepada orang-orang yang sembuh itu, dijamin akan dilayani dengan
sempurna, sebagai bagian dari “mengabdi kepada orang suci”. Bagi yang gagal sembuh, mereka akan mencari dukun-dukun yang
lain, untuk mengejar kesembuhan, sampai mendapatkan. Bisa jadi, setelah
sekian lama mencari, akhirnya dia cocok dengan dukun tertentu. Disanalah dia
terjerumus dalam syirik. Na’udzubillah wa
na’udzubillah minas syirki, zhahira wa bathina.
Orang yang sekarang sembuh, tetapi nanti kambuh lagi. Mereka akan
penasaran, lalu mencari “Ponari Ponari” yang lain.
Ya bagaimana lagi, hatinya sudah kadung cinta dengan dunia “alam ghaib” seperti
itu.
Sihir itu sendiri adalah kekafiran, biarpun dibungkus dengan doa, dzikir,
atau apa saja. Para pelaku sihir akan menjadi kafir, sebab dia
menyerahkan hatinya kepada kekafiran. Na’udzubillah
wa na’udzubillah min dzalik. Sedikit yang diperoleh, tetapi sangat besar
tebusan yang harus diberikan. Jin-jin durhaka sangat suka dengan orang-orang
yang mau menyerahkan agamanya sebagai ganti pelayanan yang mereka peroleh.
Sebab memang itu tujuan mereka, menyesatkan manusia!
Lebih baik, seorang Muslim tabah dalam sakitnya, tetap mengimani Allah dan
menjalankan agama sekuat kesanggupannya. Biarlah dia sakit, asalkan tetap
beriman dan ridha kepada-Nya. Daripada mereka mendapat
kesembuhan (menipu), tetapi akibatnya mereka jatuh dalam kekafiran,
ditinggalkan oleh Allah, hati menjadi gelap, sulit mendapat khusyuk dalam
ibadah, dan diserahkan jiwanya kepada syaitan-syaitan. Na’udzubillah bi ‘Izzatillah min kulli dzalik.
Kalau
mau ikhtiar, carilah cara-cara yang baik, cara yang wajar. Jangan seperti
cara-cara buruk itu. Lebih baik kita tetap sakit tetapi istiqamah dalam
keimanan, daripada menjadi sembuh tetapi terjerumus kemusyrikan. Di mata orang beriman, sakit itu bisa menjadi kebaikan kalau
dihadapi dengan syukur; dan di mata orang jahil, tubuh sehat pun kerap kali
tidak menambah kebaikan baginya.
Demikian
yang bisa saya sampaikan. Mohon maaf atas semua kesalahan dan kekurangan. Yang
benar dari Allah, yang salah dari diri saya sendiri. Laa haula wa laa quwwata illa billah. Wallahu a’lam bisshawaab.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar